Sidang pleno penutup Konferensi Para Pihak ke-30 (COP30), Belém, Brasil, 22 November 2025. (Foto oleh Ueslei Marcelino/COP30)
Belém, 22 November 2025 — Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) menghasilkan keputusan penting melalui adopsi mekanisme Transisi Berkeadilan atau Belém Action Mechanism (BAM). Climate Action Network International (CAN) menilai keputusan itu sebagai salah satu capaian paling kuat berbasis hak dalam sejarah perundingan iklim global. Namun, CAN menilai hasil akhir COP30 tetap belum cukup jauh untuk menjawab kebutuhan dan tuntutan keadilan iklim, terutama bagi negara dan komunitas rentan yang berada di garis depan dampak krisis iklim.
Menurut CAN, mekanisme Transisi Berkeadilan menjadi pencapaian terbesar COP30 karena untuk pertama kalinya keputusan resmi COP memuat bahasa yang luas dan ambisius mengenai hak pekerja, hak asasi manusia, hak masyarakat adat, keturunan Afrika, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, pendidikan, pemuda, dan inklusi kelompok terpinggirkan. Mekanisme ini juga mencakup pembahasan mengenai dukungan pendanaan tambahan berbasis hibah serta pengakuan atas hambatan sistemik yang menghalangi peralihan menuju ekonomi rendah karbon.
CAN menegaskan bahwa capaian ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil perjuangan panjang serikat pekerja, gerakan sosial, komunitas akar rumput, organisasi masyarakat adat, dan kelompok masyarakat sipil internasional yang terus menuntut agar keadilan menjadi landasan transisi energi.
Namun di balik capaian tersebut, CAN memperingatkan bahwa hasil COP30 secara keseluruhan masih jauh dari memadai. Organisasi ini menyoroti bahwa negara-negara maju kembali gagal memenuhi kewajiban pendanaan iklim berdasarkan tanggung jawab historis mereka. CAN menyatakan bahwa penolakan negara maju — terutama terkait pendanaan Adaptasi, peningkatan target mitigasi, dan komitmen keluar dari energi fosil — telah melemahkan hasil akhir COP30 dan merusak kepercayaan dalam proses negosiasi global.
CAN juga menilai bahwa keputusan Adaptasi merupakan salah satu kelemahan terbesar COP30. Pelemahan kewajiban pendanaan Adaptasi dan keputusan untuk menunda target pelipatan tiga pendanaan hingga tahun 2035 disebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara dan komunitas rentan, terutama di Global Selatan. Ketiadaan penyebutan Tujuan Global Adaptasi dalam dokumen akhir turut memperlemah posisi Adaptasi dalam agenda iklim global.
Selain itu, CAN menyayangkan tidak adanya komitmen eksplisit untuk meninggalkan energi fosil dalam keputusan final COP30. Mereka menilai absennya komitmen tersebut sebagai kegagalan serius mengingat minyak, batu bara, dan gas merupakan akar penyebab krisis iklim.
Kekecewaan CAN tidak hanya menyasar hasil substansi, tetapi juga proses penyelenggaraan COP30. Mereka menyoroti peningkatan signifikan kehadiran pelobi industri fosil dan semakin banyaknya sesi negosiasi yang dilakukan tertutup. CAN menilai tren ini mengancam transparansi, partisipasi publik, serta akuntabilitas proses COP yang selama ini sudah berada dalam tekanan. Organisasi tersebut menilai tren ini sangat mengkhawatirkan dan menegaskan perlunya evaluasi tata kelola COP agar mampu menjawab urgensi dan skala krisis iklim.
Direktur Eksekutif CAN Tasneem Essop menyatakan bahwa meski BAM merupakan kemenangan besar, perjuangan belum selesai. “Kami datang untuk mendapatkan Belém Action Mechanism — untuk keluarga, pekerja, dan komunitas. Adopsi mekanisme Transisi Berkeadilan adalah kemenangan yang dibentuk melalui tekanan bertahun-tahun dari masyarakat sipil. Hasil ini bukan hadiah; ini diperjuangkan melalui keteguhan, perjuangan, dan keberanian moral dari mereka yang hidup di garis depan krisis iklim. Pemerintah kini harus menghormati mekanisme ini dengan tindakan nyata. Selain itu adalah bentuk pengkhianatan — terhadap manusia dan terhadap janji Paris.”
Essop menegaskan bahwa Adaptasi tetap menjadi prioritas perjuangan. “Kami akan terus memperjuangkan Adaptasi — hal ini penting untuk melindungi manusia dengan membangun ketahanan mereka terhadap dampak iklim, memastikan mereka memiliki sumber daya menghadapi risiko yang meningkat, dan menjamin tidak ada komunitas yang dibiarkan rentan. Tanpa pendanaan Adaptasi serta rencana pendanaan penuh untuk transisi dari energi fosil, pemerintah tidak sedang menangani akar krisis. Kami memperoleh kemenangan keadilan di COP30 — dan perjuangan belum selesai.”
Sementara itu, Anabella Rosemberg, Pimpinan Transisi Berkeadilan CAN International, menilai BAM sebagai tonggak sejarah yang mempertemukan kepentingan pekerja dan gerakan lingkungan. “Pekerja dan aktivis lingkungan kini berada di barisan yang sama! Penciptaan mekanisme Transisi Berkeadilan adalah capaian besar bagi keadilan sosial dan keadilan iklim — bagi manusia dan bumi. Mekanisme ini hadir dengan kerangka berbasis hak paling progresif yang pernah ada dalam keputusan COP.”
Namun ia menekankan pentingnya implementasi. “Mekanisme berbasis hak hanya berarti jika ia dapat diimplementasikan. Transisi Berkeadilan bukan bab tambahan dari kebijakan iklim — ini adalah lensa yang kini harus memandu seluruh implementasi Perjanjian Paris. Setelah mekanisme ini ada, pemerintah harus mengisinya dengan ambisi, pendanaan, dan kolaborasi. Pekerja dan komunitas sudah menunggu terlalu lama — dan kami akan terus memastikan bahwa mekanisme yang dibuat untuk rakyat benar-benar sampai kepada rakyat.”
CAN menutup evaluasinya dengan menegaskan bahwa BAM adalah awal, bukan akhir. Mereka berkomitmen mengawal implementasi mekanisme ini dan terus menekan pemerintah agar memenuhi tanggung jawab iklim mereka — baik dalam forum internasional maupun di tingkat domestik.
Menurut CAN, hasil COP30 mencerminkan kemajuan bersejarah namun meninggalkan pekerjaan besar dalam mewujudkan keadilan iklim yang utuh. Dan perjuangan, kata mereka, masih terus berlanjut. (*)