Aktivitas masyarakat pesisir. Realitas krisis iklim tampak jelas di desa-desa pesisir Indonesia.
Jakarta, 23 November 2025 — Ketika 2025 diproyeksikan menjadi tahun terpanas kedua dalam sejarah, bagi banyak orang angka itu hanya statistik. Namun bagi Icheiko Ramadhanty, realitas krisis iklim tampak jelas di desa-desa pesisir Indonesia: laut naik, cuaca makin tak menentu, dan nelayan kehilangan pendapatan.
“Contohnya di Ambon. Saya melihat sendiri bagaimana perempuan pesisir di sana harus kehilangan penghasilan dari menjual olahan ikan, karena laut makin tercemar dan hasil tangkapan makin sedikit,” kata Icheiko dalam keterangan tertulis, 21 November 2025.
Bulan ini, Icheiko terbang ke Belém, Brasil, menjadi satu dari 16 pemimpin muda Selatan Global yang tampil di panggung COP30. Pengalaman panjangnya bersama GAWIREA (Girls and Women in Renewable Energy Academy) dalam mendampingi komunitas pesisir membuatnya terpilih oleh organisasi Life of Pachamama di Kolombia.
Sebagai Communications and Community Development Manager di GAWIREA, ia menegaskan bahwa solusi iklim harus berangkat dari mereka yang paling terdampak. “Dalam COP30, saya ingin lebih bersuara dalam menekan negara-negara kaya dan pencemar utama menunaikan tanggung jawabnya, yaitu menghadirkan pendanaan iklim yang memadai, tanpa menambah utang dan tanpa syarat, serta memastikan Loss and Damage Fund benar-benar terisi dan bisa diakses oleh yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa COP30 berlangsung di tengah ketidakpastian politik global dan komitmen negara maju yang sering goyah, namun juga di saat transisi energi terbarukan tumbuh pesat. “Namun, semua ini tidak akan berarti tanpa keadilan iklim,” katanya.
Energi dari Komunitas Pesisir
Di GAWIREA, Icheiko terlibat membangun pemahaman energi terbarukan di komunitas yang paling rentan terhadap krisis. Program Net Zero Heroes, yang ia jalankan bersama timnya, telah menjangkau lebih dari 1.000 orang muda di Indonesia dan Asia Pasifik—80 persennya perempuan. “Kami ingin orang muda tahu apa itu krisis iklim dan paham langkah praktis untuk menanganinya,” kata Icheiko.
Para alumninya kini menginisiasi beragam proyek akar rumput: dari pengolahan sampah rumah tangga, konservasi mangrove, hingga penggunaan panel surya di daerah terpencil. Ketimpangan akses energi yang ia temui di lapangan mempertegas misinya. “Banyak keluarga di daerah pesisir atau pulau kecil masih bergantung pada genset. Sementara kota besar membicarakan mobil listrik. Kesenjangan ini harus diubah,” ujarnya.
Menegaskan Suara Selatan Global
Kiprah Icheiko membawanya terpilih sebagai satu dari 16 pemimpin muda dari tiga benua, mewakili lebih dari 10.700 peserta program Pathway to the Democratization of the South. Selama enam bulan, mereka dilatih diplomasi iklim, komunikasi strategis, hingga evaluasi kepemimpinan. Hasilnya adalah Deklarasi Pemuda Selatan Global yang disampaikan di COP30, menuntut agar negara maju memenuhi tanggung jawab iklim secara adil—mulai dari pendanaan tanpa syarat, pelibatan orang muda di setiap proses kebijakan, hingga akuntabilitas korporasi atas kerusakan lingkungan.
Pandangan itu dikuatkan Juan David Amaya, Direktur Eksekutif Life of Pachamama. “Selama bertahun-tahun, wilayah Selatan hanya dipandang sebagai korban dari krisis iklim,” ujar Juan. Ia menegaskan perubahan posisi politik generasi muda. “Delegasi yang terdiri dari orang muda dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia menunjukkan bahwa kami adalah wilayah, gagasan, dan kekuatan politik. Kami tidak ingin sekadar mendapat tempat simbolis; kami menuntut agar keputusan kami juga diperhitungkan dalam membangun perjanjian iklim yang baru.”
Bagi Icheiko, gagasan demokratisasi Selatan Global sangat penting. “Bagi saya, demokratisasi berarti mengembalikan kendali dan ruang keputusan kepada negara-negara Selatan Global, karena mereka yang paling terdampak oleh krisis, namun paling sedikit memiliki kuasa dalam menentukan arah solusinya. Suara kami tidak boleh hanya didengar; kami harus menjadi bagian dari pengambil keputusan,” ujarnya.
Ia berharap semangat deklarasi itu terus hidup setelah COP30. “Ke depan, saya berharap semakin banyak ruang kolaborasi yang menghubungkan anak muda, komunitas lokal, dan sektor swasta maupun pemerintah. Supaya gerakan iklim tidak berhenti di kampanye, tapi tumbuh menjadi ekosistem yang mendukung energi terbarukan, ekonomi biru, dan ketahanan masyarakat dari akar rumput,” katanya.
Di tengah tantangan iklim yang kian mendesak, Icheiko membawa pesan sederhana namun penting dari pesisir: setiap negara harus memiliki ruang setara untuk menentukan masa depan bumi bersama. (*)