Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Simon Stiell (kiri) dalam rapat pleno penutup Konferensi Para Pihak ke-30 (COP30), Belém, Brasil, 22 November 2025. (Foto: Rafa Neddermeyer/COP30 Brasil Amazon/PR)
Belém, 22 November 2025 — Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) resmi ditutup dengan pesan yang kuat dan tegas: dunia belum memenangkan perang melawan krisis iklim, tetapi tidak menyerah dan masih dalam perjuangan menentukan masa depan bumi. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Simon Stiell, dalam plenary penutupan COP30 di Belém, Sabtu (22/11).
“Kita tahu sejak awal bahwa COP ini akan berlangsung dalam situasi politik yang penuh badai,” ujar Stiell membuka pidatonya. Ia mengakui bahwa tahun ini tantangan geopolitik, penolakan, dan perpecahan telah mengguncang sistem kerja sama global. Namun, ia menegaskan bahwa COP30 justru membuktikan sebaliknya: kerja sama iklim masih hidup dan bergerak maju.
“Saya tidak mengatakan bahwa kita telah memenangkan pertarungan iklim. Namun tidak dapat disangkal bahwa kita masih berada di dalamnya — dan kita sedang melawan balik,” kata Stiell.
Menurutnya, meski ada satu negara besar yang memilih langkah mundur dalam agenda iklim global, mayoritas dunia tetap tegak. “Di tengah angin politik yang menghantam keras, 194 negara berdiri teguh dalam solidaritas — kokoh dalam dukungan terhadap kerja sama iklim,” katanya. Ia menambahkan, “194 negara yang mewakili miliaran manusia menyatakan dengan satu suara bahwa 'Persetujuan Paris berjalan', dan berkomitmen menjadikannya lebih jauh dan lebih cepat.”
COP30 menghasilkan sejumlah komitmen penting, termasuk kesepakatan tentang transisi berkeadilan, pelipatgandaan pendanaan adaptasi, dan deklarasi pertama dalam sejarah bahwa transisi global menuju ekonomi rendah karbon dan sistem yang berketahanan iklim adalah irreversible. Pernyataan itu, kata Stiell, bukan hanya aspirasi moral tetapi realitas pasar. “Ini adalah kenyataan — dibuktikan dengan arus investasi energi terbarukan yang kini mencapai dua kali lipat energi fosil,” tegasnya.
Melalui Action Agenda, COP30 juga menghasilkan langkah konkrit, termasuk komitmen pendanaan sebesar satu triliun dolar untuk jaringan energi bersih, perlindungan serta restorasi ratusan juta hektare hutan, wilayah daratan, dan lautan, serta peningkatan ketahanan lebih dari 400 juta orang yang terdampak perubahan iklim.
Stiell menekankan bahwa capaian ini bukan sekadar simbol. “Pencapaian ini bukan pertunjukan sampingan — ini adalah kemajuan nyata di bidang yang paling penting bagi miliaran orang.” Ia menyebut publik global kini menuntut jawaban sederhana namun fundamental: apakah mereka akan dapat makan, membayar energi, menghirup udara bersih, dan selamat dari banjir, badai, serta kebakaran ekstrem berikutnya. COP30, menurutnya, mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu “tidak sempurna, tidak cukup cepat — tetapi nyata.”
Namun, ia juga memberikan peringatan keras mengenai ancaman disinformasi iklim yang semakin masif dan terstruktur. “Disinformasi berusaha menjaga ekonomi lama tetap hidup — dengan dampak yang sangat dalam,” katanya. Ia mengingatkan bahwa disinformasi memelintir persepsi publik, menunggangi ketakutan sosial, dan mengalihkan fokus dari penyebab krisis yang sebenarnya. “Dampak berlapis dari perubahan iklim memicu ketakutan. Disinformasi kemudian menjadikannya senjata.”
Meski begitu, Stiell tetap optimistis. Ia menyebut COP30 sebagai “COP kebenaran” yang memperlihatkan bahwa pergeseran dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan dan ketahanan iklim bukan hanya mungkin, tetapi tidak dapat dihentikan. “Dengan atau tanpa peta navigasi, arah kita jelas: peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan dan ketahanan — tidak dapat dihentikan.”
Ia mengakui masih ada kekecewaan dari negara-negara yang ingin langkah lebih cepat, terutama dalam pembiayaan, penghentian bahan bakar fosil, dan penanganan kerusakan iklim yang semakin parah. Namun, ia meminta dunia tidak mengabaikan kemajuan yang terjadi. “Saya memahami rasa frustrasi itu — dan sebagian besar saya rasakan sendiri. Namun jangan kita abaikan seberapa jauh COP ini telah membawa kita maju.”
Stiell menutup pidatonya dengan seruan moral dan politik: menjaga urgensi setelah delegasi kembali ke negara masing-masing. “Selama dua minggu setiap tahun, COP menempatkan isu iklim di puncak agenda dunia. Saat kita pulang dari sini, tugas kita adalah menjaganya tetap di sana selama lima puluh minggu berikutnya.”
Ia menutup dengan satu kata yang merangkum semangat kolektif COP30: mutirão — istilah masyarakat adat Brasil yang berarti upaya bersama untuk satu tujuan. “Kita harus terus membawa semangat mutirão yang menang di COP30 ini,” kata Stiell. “Obrigado,” tutupnya. (*)