Presiden COP30 Andre Correa do Lago saat rapat pleno penutupan Konferensi Para Pihak ke-30 (COP30) di Belém, Brasil, 22 November 2025. (Foto oleh Antonio Scorza/COP30)
Belém, 22 November 2025 — Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) resmi ditutup dengan momentum bersejarah. Setelah dua minggu negosiasi intensif, sebanyak 195 pihak menyetujui Paket Belém, rangkaian keputusan yang diklaim menjadi fondasi baru untuk mempercepat aksi iklim global dalam satu dekade ke depan. Paket ini disebut bukan sekadar dokumen, melainkan arah baru multilateralisme iklim yang lebih terhubung dengan kehidupan manusia.
“Saat kita meninggalkan Belém, momen ini tidak boleh dikenang sebagai akhir dari sebuah konferensi, tetapi sebagai awal dari satu dekade untuk membalikkan keadaan,” ujar Presiden COP30, André Corrêa do Lago, dalam pidato penutupan.
Ia menegaskan bahwa semangat kerja sama dan solidaritas yang terlihat selama pertemuan ini harus terus hidup “di setiap ruang rapat pemerintah, ruang kelas, laboratorium, komunitas hutan, kota besar, dan wilayah pesisir.”
Paket Belém: Inti Kesepakatan COP30
Paket Belém mencakup 29 keputusan konsensus, mulai dari pendanaan adaptasi, transisi energi, teknologi, perdagangan, hingga gender. Seluruh keputusan ini disebut sebagai tonggak yang menandai COP30 sebagai “COP Implementasi.”
Salah satu komitmen utama adalah target untuk melipatgandakan tiga kali dana adaptasi pada 2035, dengan penekanan bahwa negara maju wajib meningkatkan dukungan finansial kepada negara berkembang. Sebagai penuntun implementasi, negara-negara menyepakati Baku Adaptation Roadmap untuk periode 2026–2028 menjelang Global Stocktake berikutnya.
COP30 juga menandai penyelesaian 59 indikator sukarela untuk melacak kemajuan Global Goal on Adaptation—meliputi sektor air, pangan, kesehatan, infrastruktur, ekosistem, dan penghidupan, dengan memasukkan unsur lintas sektor seperti pendanaan, teknologi, dan peningkatan kapasitas.
Mekanisme Transisi Berkeadilan dan Gender sebagai Pilar
Para pihak sepakat membangun mekanisme transisi berkeadilan yang menempatkan manusia di pusat kebijakan iklim. Mekanisme ini bertujuan memperkuat kerja sama internasional, berbagi pengetahuan, serta memastikan transisi energi terjadi secara inklusif dan adil.
COP30 juga menghasilkan Gender Action Plan yang mendorong negara untuk mengalokasikan anggaran responsif gender dan memperkuat kepemimpinan perempuan adat, perempuan keturunan Afrika, dan perempuan pedesaan dalam agenda iklim.
Mutirão Decision dan Platform Baru Pelaksanaan
Kesepakatan penting lain dalam Paket Belém adalah Mutirão Decision, yang memperkuat dorongan beralih dari negosiasi menuju implementasi. Di dalamnya termasuk dua inisiatif utama:
- Global Implementation Accelerator untuk mendukung implementasi NDC dan rencana adaptasi nasional.
- Belém Mission to 1.5, platform aksi troika COP29–COP31 untuk mempercepat mitigasi, adaptasi, dan investasi.
“Mutirão Decision mendefinisikan semangat COP kita: mobilisasi global melawan perubahan iklim untuk memperingati 10 tahun Perjanjian Paris dan membuka jalan bagi ambisi yang lebih tinggi dalam dekade kritis ini,” kata Corrêa do Lago.
Implementasi Mulai Bergerak
COP30 menunjukkan bahwa implementasi sudah berjalan. Lebih dari 122 negara menyampaikan NDC baru atau diperbarui, sementara lebih dari 120 rencana percepatan solusi diumumkan lintas sektor.
Beberapa inisiatif utama yang diluncurkan meliputi:
- FINI (Fostering Investible National Implementation) untuk membuka investasi adaptasi senilai USD 1 triliun dalam tiga tahun.
- Belém Health Action Plan, dengan dukungan dana USD 300 juta untuk memperkuat kesehatan publik dalam menghadapi dampak iklim.
- RAIZ Accelerator untuk memulihkan lahan pertanian terdegradasi—lanjutan dari program nasional Brasil yang telah memobilisasi hampir USD 6 miliar.
Brasil sebagai tuan rumah juga mengumumkan dua Belém Roadmaps:
- Forest and Climate Roadmap untuk menghentikan deforestasi, dan
- Transitioning Away From Fossil Fuels Roadmap untuk membantu negara membangun jalur menuju energi rendah karbon.
Amazon dan Laut Mendapat Sorotan
COP30 meluncurkan Tropical Forests Forever Facility (TFFF)—mekanisme global pertama untuk pembayaran jangka panjang atas hasil konservasi hutan tropis. Fase awal mengumpulkan komitmen sebesar USD 6,7 miliar dari 63 negara.
Di sisi laut, Blue NDC Challenge diikuti 17 negara, sementara One Ocean Partnership menargetkan mobilisasi USD 20 miliar pada 2030 dan penciptaan 20 juta pekerjaan biru.
Pembiayaan Iklim Global Bergerak
Kesepakatan keuangan di COP30 mencatat Baku-to-Belém Roadmap to 1.3T, kerangka untuk menaikkan pendanaan iklim global menjadi sedikitnya USD 1,3 triliun per tahun pada 2035.
COP30 juga meluncurkan Global Climate Finance Accountability Framework untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas pendanaan iklim.
Selain itu, diskusi baru tentang perdagangan dan iklim di bawah WTO, UNCTAD, dan ITC diluncurkan untuk memastikan kebijakan iklim tidak berubah menjadi hambatan perdagangan.
Aksi Massa Terbesar dalam Sejarah COP
COP30 menonjolkan peran masyarakat. Lebih dari 900 perwakilan masyarakat adat hadir di zona negosiasi, sementara Belém Climate March menjadi salah satu aksi massa terbesar dalam sejarah COP.
Aksi-aksi ini dinilai mempertegas hubungan antara keadilan iklim, martabat manusia, dan solidaritas antargenerasi.
Dengan ditutupnya COP30, Brasil akan tetap memimpin proses hingga 2026. Corrêa do Lago menegaskan bahwa hasil COP30 bukan akhir, tetapi permulaan: membangun multilateralisme yang lebih kuat, mempercepat implementasi Perjanjian Paris, dan memastikan aksi iklim memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
COP30 meninggalkan Belém dengan pesan tegas: dunia telah sepakat bahwa dekade ini adalah penentu. Implementasi dimulai sekarang. Dan dari tepian Amazon, komitmen global untuk masa depan iklim lahir tidak sebagai wacana, tetapi sebagai gerakan bersama. Karena, seperti yang ditegaskan sang presiden konferensi — “semangat ini tidak berakhir dengan palu ketua sidang.” (*)