Dari Rinjani ke Belem: Agam, Pemandu yang Jadi Pahlawan Brasil, Kini Dilamar Netflix

Agam Rinjani (kanan) berfoto bersama warga Brasil, Mairla Santos, di tengah Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belém, Brasil, 15 November 2025. (Foto: SIEJ/Joni Aswira)

Belém, 17 November 2025 — Abdul Haris Agam, yang akrab disapa Agam Rinjani, kini menjadi salah satu wajah paling menarik di COP30, konferensi perubahan iklim PBB yang digelar di Belém, Brasil. Nama pria asal Lombok ini melejit setelah aksinya mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil di Gunung Rinjani — sebuah tindakan kemanusiaan yang kemudian menyulut simpati publik Brasil dan mengantarnya ke panggung diplomasi global.

Agam kini berada di Belém selama beberapa hari sebagai bagian dari delegasi Indonesia yang dikirim oleh Kementerian Kehutanan. Menurut pengakuannya, ia diundang “untuk belajar bagaimana negara-negara lain mempresentasikan solusi lingkungan yang bisa diterapkan di Tanah Air.”

Selama mengikuti rangkaian acara COP30 sejak 12 November, Agam aktif mengunjungi paviliun dari berbagai negara. Ia mengaku terinspirasi dari ide-ide inovatif yang menurutnya bisa diadopsi di Indonesia. 

Misalnya, dari paviliun China, ada pendekatan menggunakan sampah sebagai bahan baku bioenergi sekaligus suvenir bernilai ekonomi. Dari Jepang, ia mendapat insight soal panel surya yang mampu menyerap dan menyalurkan energi meski saat matahari tidak bersinar — teknologi yang sangat relevan untuk Rinjani, di mana kabut seringkali menutup dan mengganggu pasokan listrik, termasuk untuk fasilitas komunikasi darurat seperti Starlink.

Agam menilai, solusi semacam itu bisa sangat berdampak. “Sampah gunung kan banyak sekali. Energi juga dibutuhkan kalau ada bencana,” ujarnya.

Viral di Rinjani, Dikenang di Brasil

Kisahnya bermula saat Agam dan rekannya Tyo mendengar kabar pendaki asal Brasil jatuh di Gunung Rinjani. Meski saat itu mereka berada di Jakarta, keduanya segera berangkat ke Lombok untuk membantu evakuasi. 

Di lapangan, mereka bekerja bersama tim Basarnas, polisi, TNI, taman nasional, dan relawan lokal, hingga akhirnya jenazah ditemukan di dasar tebing. Meski Agam menegaskan bahwa keberhasilan itu adalah kerja tim, namanya yang menonjol dalam media sosial dan pemberitaan membuat dirinya menjadi “wajah” dari misi tersebut.

Bagi publik Brasil, tindakan Agam telah menjadi simbol solidaritas. Ketika hadir di COP30, ia disambut hangat oleh warga — bahkan di kapal Greenpeace Rainbow Warrior, beberapa orang yang mengenal kisahnya spontan meminta berfoto dan menyapa.

Agam mengaku terharu. “Orang Brasil mirip orang Indonesia, ramah sekali. Hanya kendalanya bahasa, jadi kadang kita hanya bisa berkomunikasi lewat senyum,” ujarnya.

Salah satu warga Brasil, Mairla Santos, mengatakan Agam dianggap sebagai pahlawan sejati. Dia menyampaikan terima kasih kepada Agam atas keberaniannya mengevakuasi warga Brasil yang jatuh di Gunung Rinjani.

“Agam dianggap pahlawan oleh kami semua orang Brasil, karena semua otoritas di Indonesia, mereka tidak bisa menyelamatkan kami, warga Brasil, kan? Tapi Agam berhasil, bahkan setelah beberapa hari, ketika dia sudah tidak hidup lagi. Ini sangat penting bagi kami, semua orang Brasil,” kata Mairla di Belém.

Ditawari Film di Netflix

Lebih dari sekadar delegasi iklim, Agam kini menjadi inspirasi media. Ia mengatakan bahwa tim Netflix Brasil telah menghubunginya sejak awal viral, dan proses pembuatan film dokumenter sudah berjalan. 

Judul sementara: “My Name is Rinjani”. Proyek itu tidak hanya mengambil adegan di Brasil, tetapi juga akan menyambung ke Indonesia — mencakup syuting di Jakarta, Lombok, hingga Makassar. Salah satu bagian menarik akan menyoroti latihan penyelamatan bersama tim rescue Brasil di pegunungan.

Misi Lebih Besar: Iklim, Kemanusiaan, dan Keberlanjutan

Keikutsertaan Agam dalam COP30 bukan sekadar simbol personal, tetapi bagian dari gerakan sipil yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa sebagai warga biasa, ia merasa punya tanggung jawab moral untuk mengawasi implementasi kebijakan iklim. 

“Kalau resolusi dunia disepakati di sini, kita bisa pantau apakah pemerintah membawa hasil itu ke dalam kebijakan. Kalau tidak, saya bakal cuap-cuap di media,” kata Agam.

COP30 sendiri diadakan dari 6–21 November 2025 di Belém dengan fokus membahas cara mempercepat aksi iklim agar target kenaikan suhu global 1,5°C bisa tercapai. 

Di konferensi ini juga muncul inisiatif kesehatan global: menurut WHO dan pemerintah Brasil, lebih dari 540.000 orang meninggal setiap tahun akibat panas ekstrem, dan banyak rumah sakit berisiko terganggu oleh dampak iklim.

Pulang untuk Menanam dan Merawat Rinjani

Agam tidak menutup mata. Pulang dari Brasil, ia sudah menyiapkan langkah konkret di tanah Rinjani. Sebagai bagian dari komitmennya, ia berniat menanam pohon pada musim hujan mendatang, agar Rinjani tetap terjaga. Rencananya itu akan dimulai pada Desember agar tidak kewalahan menyiram saat kemarau tiba.

Rencana itu sejalan dengan status Rinjani sebagai Geopark Global UNESCO. Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, yang luasnya mencapai sekitar 41.330 hektar, tidak hanya mengandung nilai wisata dan keindahan alam, tetapi juga kekayaan geologi dan warisan budaya.

Panggilan dari Alam

Kisah Agam Rinjani lebih dari sekadar viral di media sosial atau tawaran film. Ia mewakili simbol bahwa lokalitas, keberanian, dan kerja kemanusiaan bisa bersinergi dengan agenda global seperti perubahan iklim. 

Dalam konferensi besar seperti COP30, namanya berdiri di persimpangan — antara figur pahlawan lokal, advokat lingkungan, dan duta diplomasi sipil.

Ketika Agam kembali ke Lombok nanti, ia membawa bukan hanya cerita heroik, tetapi juga solusi konkret dan pengalaman dunia yang bisa dirajut kembali untuk menjaga Rinjani — gunung yang bukan hanya saksi keindahan alam, tetapi juga tanggung jawab bersama. Gunung setinggi 3.726 meter itu, selain ikonik sebagai geopark, kini punya duta yang berbicara tentang masa depan bumi. (*)