Kapal legendaris Greenpeace, Rainbow Warrior, bersandar di Porto Universidade Federal do Pará (UFPA), Sabtu, 15 November 2025. (Foto: SIEJ/Joni Aswira)
Belém, 15 November 2025 — Greenpeace menyampaikan seruan tegas mengenai perlindungan hutan dan penguatan akses pendanaan langsung bagi masyarakat adat dan komunitas tradisional. Seruan itu disampaikan dalam acara Forest Solutions yang digelar di atas kapal legendaris Greenpeace, Rainbow Warrior, yang bersandar di Porto Universidade Federal do Pará (UFPA).
Acara dibuka oleh Carolina Pasquali, Direktur Eksekutif Greenpeace Brazil, di hadapan tamu kehormatan Chief Raoni, salah satu pemimpin adat paling berpengaruh di Brasil yang selama puluhan tahun memperjuangkan penyelamatan hutan Amazon. Usai seluruh rangkaian agenda, kegiatan ditutup dengan resepsi koktail.
Pada kesempatan tersebut Greenpeace meluncurkan film dokumenter pendek “Juruá – Memories of a River” yang menampilkan kisah masyarakat adat dan komunitas tepi sungai di wilayah Médio Juruá.
Seusai pemutaran film, para peserta mengikuti diskusi panel untuk menggali solusi perlindungan hutan yang berkeadilan dan memperkuat akses pembiayaan bagi masyarakat penjaga hutan. Diskusi menghadirkan beragam perspektif yang diwakili oleh Fransiska Rosari Carita dari Pemuda Adat Papua; Francisco Flavio Ferreira do Carmo, Direktur Produksi National Council of Extractive Peoples sekaligus pemimpin komunitas di Middle Juruá; Dr. Heike Henn, Kepala Departemen Kebijakan Iklim Internasional Kementerian Lingkungan Hidup Jerman; Marie Nyange Ndambo dari Kementerian Lingkungan Hidup, Pembangunan Berkelanjutan, dan Ekonomi Iklim Republik Demokratik Kongo; Mario Nicácio dari Dewan Fiskal Podáali Indigenous Fund; serta Silverius Oscar Unggul dari Kementerian Kehutanan Indonesia.
Berbagai pandangan yang muncul menegaskan bahwa masyarakat adat, pesisir, dan komunitas lokal terbukti menjadi penjaga hutan paling efektif ketika hak dan pendanaan mereka dijamin negara.
Dalam momentum COP30 di Belém, Greenpeace menyerukan Global Response Plan atau Rencana Tanggap Global untuk menutup kesenjangan ambisi 1,5°C dan mempercepat pengurangan emisi pada dekade krusial ini, seraya mendorong Forest Action Plan lima tahun untuk menghentikan deforestasi pada 2030 dan pembentukan agenda tetap baru di UNFCCC guna memastikan tercapainya target pendanaan iklim New Collective Quantified Goal (NCQG).
Seruan ini menekankan perlunya peningkatan pendanaan publik dari negara maju serta pengenaan mekanisme perpajakan berbasis prinsip polluter pays untuk membuka pendanaan berskala besar bagi negara berkembang.
Greenpeace menegaskan bahwa pendanaan bagi pengurangan emisi dan perlindungan hutan bukanlah sedekah, melainkan kewajiban negara-negara kaya yang telah menikmati keuntungan dari ekonomi ekstraktif berbasis karbon selama puluhan tahun.
Rainbow Warrior sendiri telah bersandar sejak awal November di Porto UFPA setelah berlayar dari Bogotá dan dibuka untuk umum agar masyarakat dapat mempelajari sejarah pelayaran, kampanye, serta kerja-kerja lingkungan Greenpeace di berbagai belahan dunia.
Selama COP30, lebih dari 5.000 orang di sekitar 200 kapal berlayar bersama di perairan Belém dalam aksi flotila yang memprotes apa yang mereka sebut sebagai solusi iklim palsu, termasuk pasar karbon yang dinilai memberi ruang bagi perusahaan perusak alam tetap menjalankan bisnis ekstraktif.
Aksi ini menunjukkan bahwa jalan menuju keberlanjutan tidak terletak pada skema korporasi, melainkan pada pengetahuan dan praktik leluhur masyarakat adat, pesisir, dan komunitas lokal. Greenpeace turut berlayar dalam flotila tersebut dengan Rainbow Warrior, bersama peserta dari 60 negara yang merepresentasikan kekuatan gerakan masyarakat sipil global dan solidaritas organisasi masyarakat adat lintas bangsa.
Dengan rangkaian agenda ini, Greenpeace menegaskan kembali bahwa upaya menghentikan deforestasi dan menyelamatkan ekosistem vital dunia tidak dapat dipisahkan dari perlindungan hak serta pendanaan langsung bagi komunitas yang selama ini menjaga hutan sebagai benteng terakhir pertahanan iklim bumi. (*)