Lula Desak Tanggung Jawab Negara Kaya: Utang Harus Diubah Jadi Investasi Iklim

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, berpidato di samping Presiden COP30 André Corrêa do Lago dan CEO COP30, Ana Toni, selama Konferensi Para Pihak ke-30 (COP30), Belém, Rabu, 19 November 2025. (Foto oleh Ueslei Marcelino/COP30)

Belém, Brasil — Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva kembali mengirim pesan keras kepada negara-negara kaya dalam Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belém. Dalam pernyataannya yang tajam dan penuh kritik, Lula menegaskan bahwa krisis iklim tidak dapat lagi ditangani dengan komitmen simbolis, melainkan membutuhkan perubahan struktural dalam tata kelola ekonomi global.

“Lembaga keuangan mengenakan bunga tinggi, dan sebagian utang seharusnya dikonversi menjadi investasi transisi energi,” tegasnya, Rabu, 19 November 2025. Ia menyatakan bahwa negara kaya memiliki tanggung jawab historis untuk memastikan negara berkembang mampu menjaga hutan tetap berdiri dan air tetap bersih. 

“Ini bukan sesuatu yang abstrak,” ujar Lula, sambil mengkritik perusahaan minyak, perusahaan tambang, dan kelompok superkaya dunia yang menurutnya harus mengambil porsi lebih besar dalam menanggung beban krisis iklim.

Seruan Lula ini mencerminkan garis besar diplomasi iklim Brasil: menuntut keadilan iklim global sambil memperkuat legitimasi internal. Brasil memproduksi minyak, tetapi juga etanol, biodiesel, dan 87 persen energinya berasal dari sumber bersih—argumen yang digunakan Lula untuk menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan tanpa harus menutup peluang ekonomi.

Pendanaan Besar dan Tekanan Diplomasi

Pernyataan Lula didukung oleh pengumuman penting dari Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Marina Silva bahwa Jerman telah mengucurkan 1 miliar euro ke Tropical Forests Forever Fund (TFFF). 

“Ini menunjukkan desain dan kredibilitas kuat dari dana tersebut,” ujarnya. Pendanaan ini dianggap sebagai salah satu sinyal paling konkret mengenai tanggung jawab negara maju dalam mendukung perlindungan hutan tropis.

Marina juga menyebut bahwa Presiden Lula telah menyerahkan surat ratifikasi terkait perlindungan keanekaragaman hayati laut kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres, yang ia sebut sebagai “sebuah pencapaian besar.” 

Ia menegaskan bahwa Peta Jalan COP30 memberi kejelasan agar setiap negara dapat menetapkan jalur transisinya sendiri—termasuk penghapusan bahan bakar fosil dan deforestasi—tanpa memaksakan model yang seragam.

COP Masuki Fase Implementasi

Presiden COP30 André Corrêa do Lago memperkuat pesan Lula dengan menyatakan bahwa konferensi tahun ini menandai pergeseran dari negosiasi menuju implementasi kebijakan. “COP ini menunjukkan bahwa aksi iklim kini menyentuh hampir semua sektor kehidupan manusia,” katanya. 

Ia menambahkan bahwa inisiatif dari masyarakat sipil, sektor swasta, pemerintah daerah, serta ruang diskusi di Zona Hijau dan Zona Biru mencerminkan proses yang lebih matang dan luas.

André juga menyoroti kemajuan signifikan terkait isu gender, serta menyebut suasana positif hari itu tercermin dari Presiden Lula yang sempat bercanda dengan para fotografer.

Klaim Keterlibatan Publik

Lula memuji partisipasi publik yang melampaui ekspektasi dan mengatakan bahwa memilih Belém sebagai tuan rumah merupakan keputusan berani. Menurutnya, dunia perlu melihat Amazon “sebagaimana adanya.”

Ia menekankan bahwa COP30 bukan “milik André, Guterres, atau Lula,” tetapi COP pertama yang benar-benar dimiliki oleh rakyat dunia. Klaim itu ditandai dengan Pawai Rakyat dan kehadiran 3.500 masyarakat adat yang menurutnya sebagai simbol keterlibatan tersebut.

Ia juga mengkritik model konferensi internasional yang terlalu dipagari aparat, merujuk pengalamannya menghadiri dua KTT G7. “Ketika para pemimpin membutuhkan perlindungan sedemikian rupa, mungkin mereka tidak melakukan hal yang benar,” ujarnya.

Seruan Global dan Harapan Diplomasi

Lula menegaskan bahwa pemimpin dunia harus “mencerminkan perilaku rakyatnya,” dan bahwa demokrasi serta multilateralisme tidak boleh dipertaruhkan dalam menghadapi ancaman sebesar perubahan iklim. Ia menambahkan bahwa ia percaya tim negosiasinya—“dua laki-laki dan satu perempuan”—akan menghasilkan kesepakatan terbaik yang menghormati realitas politik dan teritorial semua negara.

Di akhir pernyataannya, Lula menyebut bahwa ia berharap suatu hari dapat meyakinkan Presiden Amerika Serikat mengenai urgensi aksi iklim dan menyampaikan harapannya atas berakhirnya perang di Ukraina, yang menurutnya “tidak memiliki pembenaran.”

Lula menutup dengan optimisme bahwa negosiator COP30 akan menghasilkan keputusan terbaik “yang dapat diberikan sebuah COP bagi planet ini.” (*)