Belém, 6 November 2025 – Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyampaikan pesan paling keras sepanjang sejarah perundingan iklim: dunia telah gagal menjaga suhu global di bawah ambang batas krisis, +1,5°C. Dalam pidato pembuka sesi pleno Konferensi Iklim COP30 di Belém, Brasil, Guterres menyebut kegagalan itu sebagai “kegagalan moral dan kelalaian yang mematikan.”
“Setelah puluhan tahun penyangkalan dan penundaan, sains kini menunjukkan bahwa lonjakan sementara melampaui 1,5°C—yang akan dimulai paling lambat awal 2030-an—tak terhindarkan,” ujarnya. Ia memperingatkan, bahkan lonjakan sementara itu akan membawa “kehancuran dan biaya yang jauh lebih besar bagi setiap negara,” mendorong ekosistem melewati titik kritis yang tak dapat dipulihkan, serta mengekspos miliaran orang pada kondisi hidup yang tak layak.
Guterres menyebut bahwa bahkan dengan seluruh komitmen iklim nasional yang ada (NDC), dunia masih berada di jalur menuju pemanasan global sekitar 2,3°C. “Setiap kenaikan sepersekian derajat berarti lebih banyak kelaparan, pengungsian, kesulitan ekonomi, serta nyawa yang hilang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa batas 1,5°C adalah “garis merah bagi umat manusia” dan masih mungkin dicapai jika dunia bertindak cepat: memangkas emisi secara drastis dalam dekade ini, mempercepat penghentian bahan bakar fosil, dan melindungi hutan serta laut—penyerap karbon alami bumi.
Namun, hambatan terbesar menurutnya bukan teknologi, melainkan “keberanian politik.” Guterres menuding banyak pemimpin yang masih terikat pada kepentingan industri bahan bakar fosil. “Bertaruh pada bahan bakar fosil berarti bertaruh melawan kemanusiaan,” ujarnya, menyoroti fakta bahwa sektor itu masih menerima subsidi besar sementara emisi global terus memecahkan rekor.
Untuk membalikkan arah, Guterres menyerukan reformasi besar sistem pendanaan global dan komitmen pendanaan iklim hingga USD 1,3 triliun per tahun pada 2030, termasuk USD 300 miliar per tahun dari negara maju hingga 2035. Dana ini, katanya, harus diarahkan untuk mitigasi, adaptasi, reformasi lembaga keuangan, serta memperkuat Loss and Damage Fund bagi negara-negara rentan.
Ia menuntut negara maju memenuhi janji USD 40 miliar pendanaan adaptasi sebelum akhir tahun ini, serta memastikan pembiayaan yang “terjangkau, dapat diprediksi, dan sesuai skala” bagi negara berkembang.
Meski nada pidatonya tegas dan penuh peringatan, Guterres juga menekankan peluang besar yang telah terbuka. “Ekonomi energi bersih bukan lagi janji masa depan; ia adalah mesin kemajuan hari ini,” katanya. Tahun lalu, hampir seluruh kapasitas pembangkit baru berasal dari energi terbarukan, dan tahun ini, energi bersih menyalip batu bara sebagai sumber listrik terbesar di dunia.
Namun tanpa perubahan sistemik dan solidaritas global, capaian itu tak cukup. “Tak seorang pun bisa bernegosiasi dengan hukum fisika,” tutup Guterres. “Kita bisa memilih: memimpin, atau dibawa menuju kehancuran. Pilih kecepatan, skala, dan solidaritas—sekarang.”