Sepekan COP30 di Belém: Pendanaan Macet, Adaptasi Tersendat, Gejolak Demo Adat

Peta Jalan Baku-Belém Konferensi Tingkat Tinggi, hari keenam COP30, Belém, Brasil, 15 November 2025. (Foto: Rafa Neddermeyer/COP30 Brasil Amazon/PR)

Belém, 16 November 2025 — Pekan pertama Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém ditutup dengan tanda tanya besar: mampukah perundingan iklim global ini menghasilkan terobosan nyata ketika pendanaan iklim masih menjadi simpul sengketa, indikator adaptasi tak kunjung disepakati, dan protes masyarakat adat menggema di pintu konferensi?

Presiden COP30, André Corrêa do Lago, menegaskan perlunya upaya kolektif untuk menyelamatkan fase krusial pekan berikutnya. “Kami ingin semua negara memikirkan apa yang mereka inginkan sebagai hasil akhir,” ujarnya dalam konferensi pers penutupan pekan pertama dikutip dari InfoAmazonia. Ia menambahkan bahwa proses ini memerlukan “usaha kolektif” agar keputusan penting dapat dicapai.

Presiden Luiz Inácio Lula da Silva mengingatkan ancaman nyata kegagalan membatasi pemanasan global. “Tanpa Persetujuan Paris, dunia akan menghadapi pemanasan yang bersifat katastrofis. Kita bergerak ke arah yang benar tetapi dengan laju yang sangat lambat. Dengan kecepatan seperti ini, kita tidak akan mencapai batas 1,5°C,” katanya saat pembukaan konferensi, Senin (10/11/2025).

Agenda Disetujui, Empat Isu Krusial Tertinggal

Agenda kerja COP30 akhirnya disahkan tanpa keberatan berarti. Namun empat isu terpenting justru tertinggal dan dibahas terpisah. Empat isu yang paling diperdebatkan karena perbedaan pandangan antarnegara itu, yakni:

  • Tanggung jawab negara maju memobilisasi pembiayaan untuk negara berkembang (Pasal 9.1 Persetujuan Paris);
  • Kebijakan perdagangan unilateral termasuk pajak karbon impor;
  • Laporan transparansi dua tahunan;
  • Tanggapan atas siklus ketiga pembaruan kontribusi iklim nasional (NDC).

Pasal 9.1 menjadi pusat perdebatan dan masih menjadi titik paling sensitif antara negara maju dan berkembang, hingga kini belum menunjukkan tanda penyelesaian. 

Apa yang terjadi sepekan ke depan masih belum pasti. Sebuah teks ringkasan akan diterbitkan dan negara-negara peserta akan memutuskan langkah selanjutnya. Barulah kemudian Presidensi akan merespons.

Adaptasi Tersendat, Transisi Berkeadilan Lebih Menjanjikan

Harapan presidensi agar Belém dikenang sebagai "COP Adaptasi" justru terbentur sikap kelompok negara-negara Afrika yang meminta waktu lebih panjang untuk menetapkan indikator Tujuan Global Adaptasi. Kompleksitas indikator dan ketergantungan pendanaan disebut menjadi alasan permintaan tersebut.

Sementara itu, pembahasan peningkatan pendanaan adaptasi berjalan lambat. Sebaliknya, program kerja Transisi Berkeadilan mencatat kemajuan ketika G77 mendukung mekanisme untuk memastikan transisi energi yang inklusif.

“Usulan ini menandai titik awal pembahasan serius tentang sistem yang dibutuhkan agar aksi iklim tidak justru memiskinkan masyarakat,” kata Teresa Anderson dari ActionAid International. “Negara-negara akhirnya mulai serius membahas bagaimana pekerja, perempuan, dan komunitas dapat memengaruhi rencana iklim demi memastikan hidup mereka membaik, bukan sebaliknya.”

Peta Jalan Keluar Energi Fosil Didorong, Tapi Bukan Agenda Resmi

Gagasan peta jalan transisi energi fosil kembali digaungkan Menteri Lingkungan Hidup Marina Silva dan Presiden Lula. “Kita membutuhkan peta jalan agar umat manusia, secara adil dan terencana, mengakhiri ketergantungan pada energi fosil,” ujar Lula.

Meski mendapat dukungan Denmark, Kolombia, Kenya, Prancis, dan Kepulauan Marshall, Corrêa do Lago mengingatkan bahwa isu ini “bukan agenda negosiasi resmi” dan terkait langsung dengan komitmen NDC masing-masing negara.

Jalur Pendanaan Sepi Peminat

Laporan Baku-Belém Roadmap untuk meningkatkan pendanaan iklim menjadi 1,3 triliun dolar AS justru menuai kritik karena dinilai melemahkan tanggung jawab negara maju. Banyak pihak menilai isinya tidak mengikat serta minim minat negara peserta.

“Tanpa kemauan politik Brasil untuk mendorong pembahasan yang tepat, sangat sulit bagi negara-negara untuk benar-benar tertarik melanjutkan Peta Jalan,” kata Sandra Guzmán dari Climate Finance Group for Latin America and the Caribbean.

Corrêa do Lago menegaskan bahwa hanya target mobilisasi 300 miliar dolar yang menjadi bagian resmi negosiasi, sementara laporan roadmap “adalah dokumen hidup” yang dapat diperbarui.

Suara Adat Menggema, Gelombang Aksi Global Digelar

Aksi protes mewarnai COP30. Pada Selasa (11/11/2025), masyarakat adat bersama aktivis mencoba memasuki area konferensi namun dihalangi keamanan PBB dan pemerintah Brasil. Pada Kamis (13/11/2025), masyarakat adat Munduruku menggelar aksi damai menuntut penghentian aktivitas tambang dan eksplorasi minyak di Amazon. Corrêa do Lago menemui mereka dan mengatakan bahwa topik yang dibahas di COP juga bermanfaat bagi mereka.

Pada Sabtu (15/11/2025), Aksi Global untuk Iklim kembali berlangsung setelah tiga COP berturut-turut membatasi kebebasan berekspresi. Lebih dari 70.000 orang turun ke jalan di Belém menyerukan penghentian energi fosil.

“Tidak ada transisi berkeadilan tanpa mempertimbangkan masyarakat dan wilayah yang setiap hari merasakan dampak krisis iklim,” ujar Leilane Reis, Koordinator Keadilan Iklim Greenpeace Brasil.

Pekan kedua COP30 akan dimulai dengan masuknya fase perundingan tingkat menteri. Hingga kini, belum ada kepastian apakah konferensi ini akan menghasilkan keputusan utama berupa cover decision. Namun jelas bahwa perpecahan posisi terkait pendanaan, adaptasi, dan transisi energi akan menjadi ujian terberat perundingan iklim global di Belém. (*)