Belém, 7 November 2025 - Menjelang Konferensi Iklim PBB COP30 di Belém, Brasil, suasana kota yang terletak di jantung Amazon itu mulai berubah. Ribuan aktivis, jurnalis, diplomat, hingga masyarakat adat berdatangan, membawa pesan dan tuntutan mereka masing-masing. Di tengah simbolisme besar tentang keadilan iklim, Belém menghadapi tekanan nyata di lapangan — dari aksi protes, arus mobilisasi komunitas adat, hingga lonjakan harga akomodasi yang memicu kritik luas.
Aksi Tidur Oxfam
Pada Rabu, 5 November 2025, aktivis Oxfam Brasil menggelar aksi bertajuk “Sleeping on the Job” di kawasan tepi kampus Universidade Federal do Pará (UFPA), pusat kota Belém. Sejumlah aktivis mengenakan topeng besar menyerupai tokoh-tokoh dunia seperti Presiden Luiz Inácio Lula da Silva dan mantan Presiden Donald Trump. Mereka berbaring di kursi santai, memakai piyama, diapit jam weker raksasa bertuliskan “Climate Crisis”. Aksi ini dimaksudkan untuk mengecam kelambanan pemimpin dunia menghadapi krisis iklim.
Direktur Eksekutif Oxfam Brasil, Viviana Santiago, mengatakan dalam pernyataan resminya bahwa aksi tersebut menggambarkan “prokrastinasi berbahaya” pemerintah dan korporasi yang terus menunda keputusan penting menyelamatkan planet. Menurut Oxfam, dunia sudah terlalu lama “tidur di tengah kebakaran” — terutama negara-negara kaya yang gagal memenuhi komitmen pendanaan iklim dan menunda pengurangan emisi gas rumah kaca.
Rombongan Komunitas Adat ke Belém
Sementara itu, dari sisi lain Amazon, komunitas adat meluncurkan karavan fluvial menuju Belém. Perjalanan panjang ini dimulai awal November dari wilayah Sinop, Mato Grosso, menempuh lebih dari 3.000 kilometer menuju lokasi konferensi. Karavan yang disebut Caravana da Resposta itu membawa perwakilan dari sembilan komunitas adat, termasuk Xipaya, Kayapó, Araweté, Juruna, Arara, Parakanã, dan Xikrin. Mereka berangkat membawa pesan keadilan iklim, perlindungan tanah leluhur, dan penolakan terhadap ekspansi industri ekstraktif yang mengancam wilayah adat.
Menurut laporan Agência Pará (2 November 2025), karavan itu menjadi ruang dialog dan pembelajaran bersama di sepanjang jalur sungai Xingu. Awinhoô Araweté, salah satu pemimpin adat, mengatakan perjalanan ini penting “agar dunia mendengar langsung dari mereka yang paling merasakan dampak krisis iklim.” Di Belém, mereka dijadwalkan mengikuti People’s Summit, forum masyarakat sipil yang berlangsung 12–16 November, paralel dengan konferensi resmi PBB.
Lonjakan Harga Akomodasi
Namun di balik mobilisasi moral dan simbolik itu, realitas kota Belém menunjukkan tekanan besar. Sejumlah media lokal dan internasional menyoroti lonjakan harga hotel yang tidak masuk akal. Le Monde (26 Juni 2025) menulis, tarif kamar di beberapa hotel mencapai 2.000–4.000 euro per malam selama COP30, sementara The Washington Post mencatat beberapa delegasi negara kecil bahkan mempertimbangkan tidak hadir karena biaya penginapan yang melampaui anggaran.
Data Asosiasi Industri Hotel Pará (ABIH-PA) menunjukkan rata-rata tarif harian naik hingga 500 persen dibandingkan harga normal. Sebuah hotel kecil di kawasan Hangar — lokasi utama konferensi — yang biasanya memasang tarif R$180 per malam, kini mematok harga lebih dari R$10.000. Media independen Arayara.org melaporkan bahwa tarif satu kamar selama sepuluh hari konferensi bisa menembus R$118.000, atau sekitar Rp350 juta.
Pemerintah Brasil melalui Sekretariat Ekstraordinário COP30 (Secop) mengakui adanya spekulasi harga dan berjanji memantau bersama lembaga perlindungan konsumen. Sejumlah solusi darurat ditawarkan, seperti penggunaan kapal pesiar, sekolah, dan barak militer sebagai penginapan alternatif. Namun, banyak pihak khawatir kebijakan ini tidak cukup cepat dan berpotensi mencederai citra inklusif COP30.
Tantangan Keamanan
Selain masalah logistik, tantangan keamanan juga meningkat. Menurut Le Monde (3 November 2025), otoritas lokal memperkirakan kehadiran lebih dari 50.000 peserta dari 190 negara. Kota berpenduduk 1,5 juta jiwa itu tengah berpacu memperkuat infrastruktur transportasi, jaringan komunikasi, dan sistem keamanan. Bandara Val-de-Cans diperluas, hotel-hotel baru dibuka, dan ribuan relawan dilatih untuk menyambut tamu internasional.
Namun, di mata warga lokal, dampak ekonomi belum tentu positif. Sebagian penduduk mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan kemacetan di pusat kota. “COP30 membuat semua orang datang, tapi juga membuat hidup kami lebih mahal,” kata seorang pedagang di kawasan Cidade Velha, dikutip dari Brasil de Fato (23 Juni 2025).
Simbolisme Belém sebagai “jantung Amazon” memberi bobot politik besar bagi COP30 — konferensi iklim petama yang digelar di wilayah Amazon. Pemerintahan Lula da Silva ingin menjadikan forum ini sebagai bukti komitmen Brasil melindungi hutan tropis dan memimpin agenda global dekarbonisasi. Namun, tekanan dari kelompok sipil dan masyarakat adat menunjukkan bahwa janji besar tak bisa dipisahkan dari kenyataan lapangan.
Oxfam menegaskan bahwa tanpa langkah nyata menghapus ketimpangan iklim, COP30 hanya akan menjadi panggung diplomasi kosong. Sementara para pemimpin adat mengingatkan bahwa keadilan iklim tidak bisa dibicarakan tanpa keadilan sosial dan lingkungan bagi penjaga hutan yang sesungguhnya.
Dengan People’s Summit yang akan berlangsung pekan depan dan konferensi resmi dibuka 10 November, Belém kini menjadi cermin kontras antara janji global dan kenyataan lokal. Dari aksi tidur simbolik Oxfam, perjalanan karavan sungai yang menembus ribuan kilometer, hingga keluhan warga atas harga hotel yang melambung, COP30 memperlihatkan satu hal: perdebatan iklim dunia tak lagi hanya terjadi di ruang negosiasi, tetapi juga di jalanan, di sungai, dan di rumah-rumah penduduk Amazon.