Suara Pasifik di COP30: Bagi Kami 1,5°C Adalah Garis Hidup

Greenpeace International bersama para aktivis iklim dari Pasifik dalam konferensi pers pada pekan kedua perundingan iklim COP30, Belém, Brasil, 17 November 2025. (Foto: SIEJ/Joni Aswira)

Belém, 17 November 2025 — Seruan agar negara-negara besar berhenti menunda aksi iklim kembali menggema di COP30, Belém. Dalam konferensi pers pada pekan kedua perundingan iklim, Greenpeace International bersama para aktivis iklim dari Pasifik memperingatkan bahwa dunia sedang melaju ke arah pemanasan jauh di atas batas aman 1,5°C — dan G20 dinilai sebagai penentu utama apakah target itu masih bisa diselamatkan atau tidak.

Wakil Direktur Program Greenpeace International, Jasper Inventor, memulai pemaparannya dengan nada tegas. Ia menyodorkan hasil laporan 2035 Climate Ambition Gap Report yang memperlihatkan jurang antara komitmen dan tindakan negara-negara ekonomi besar. “Jika ekonomi terbesar gagal, dunia pun gagal,” ujarnya, menekankan bahwa target iklim yang diajukan G20 saat ini hanya mampu memotong emisi sekitar 23–29 persen pada 2035. Padahal, para ilmuwan merekomendasikan penurunan setidaknya 60 persen dibanding level 2019.

Inventor juga menyebut Uni Eropa dan Tiongkok sebagai pemain kunci yang dapat mengubah arah negosiasi. Menurutnya, UE sudah saatnya menetapkan target yang benar-benar selaras sains, sementara Tiongkok perlu menunjukkan jalur penurunan emisi yang jelas pada dekade 2030-an. “Jika keduanya bergerak bersama, itu bisa menggeser kurva emisi global secara signifikan,” katanya.

Emisi Global Masih Jauh dari Jalur Aman

Pandangan itu diperkuat analis kebijakan iklim dari Climate Analytics, Sophia Gonzalez Zuniga. Menurut proyeksi Climate Action Tracker, dunia masih mengarah pada pemanasan sekitar 2,6°C meskipun negara-negara telah memperkenalkan target baru untuk 2035.

“Emisi global masih hampir dua kali lipat dari yang selaras dengan jalur 1,5°C,” ujarnya. Ia menilai hambatan terbesar bukanlah teknologi — energi terbarukan semakin murah dan cepat tumbuh — melainkan kemauan politik. Ia menegaskan bahwa jalan menuju net-zero pada 2050 sesungguhnya masih mungkin ditempuh, tetapi hanya jika pemerintah “meningkatkan ambisi secara drastis mulai sekarang.”

Suara Pasifik: 1,5°C Bukan Sekadar Angka

Nada emosional datang dari Kepala Divisi Pasifik Greenpeace Australia Pacific, Shiva Goundan. Bagi negaranya dan banyak pulau kecil lain, kenaikan suhu global bukan sekadar variabel saintifik.

“Bagi kami, 1,5 derajat adalah garis hidup — antara desa yang bertahan dan yang hilang, antara tanah air dan kenangan,” katanya. Ia menggambarkan wilayah yang kian sering diterjang badai ekstrem, pantai yang hilang ditelan laut, dan terumbu karang yang memutih. Melampaui batas 1,5°C, menurutnya, adalah “titik tanpa jalan kembali” bagi pulau-pulau di Pasifik.

Goundan mendesak G20, lembaga keuangan, dan para produsen energi fosil untuk berhenti menunda. Dana pendukung transisi energi bersih harus tersedia sekarang, bukan menunggu 2035.

Hutan, Komunitas Adat, dan Pendanaan Langsung

Isu keadilan iklim menguat ketika Anne Lumbrex, pakar kebijakan keanekaragaman hayati Greenpeace International, mengingatkan pentingnya memastikan masyarakat adat tidak hanya disebut, tetapi benar-benar menjadi pusat kebijakan. Ia menyebut target penghentian deforestasi 2030 tak akan tercapai jika pendanaan tak mengalir ke penjaga hutan sesungguhnya.

“Hutan berintegritas tinggi adalah benteng terakhir kita,” ujarnya. Ia menekankan bahwa COP30 harus memutuskan pendanaan langsung bagi komunitas adat, penghentian deforestasi dan degradasi, serta koordinasi antara forum iklim, keanekaragaman hayati, dan penggunaan lahan.

Titik Kritis COP30: Antara Komitmen dan Kredibilitas

Menjelang fase krusial COP30, para aktivis memperingatkan bahaya kegagalan perundingan. Jika negara-negara besar tidak meningkatkan target, mereka khawatir dunia kehilangan bukan hanya pulau-pulau di Pasifik, tetapi juga legitimasi proses negosiasi iklim itu sendiri.

“Kalau dunia melewati 1,5°C, yang tenggelam bukan hanya pulau-pulau kami. COP ini juga akan tenggelam di bawah gelombang,” kata Goundan.

COP30 berdiri di sebuah persimpangan yang akan menentukan apakah dunia memilih jalan pemulihan atau menyerahkan masa depan pada panas yang tak terkendali. Pertarungan mempertahankan batas 1,5°C bukan lagi isu teknis di ruang diplomasi, tetapi soal keselamatan jutaan manusia, keberlangsungan hutan dan laut, serta keberanian politik untuk menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang memicu krisis ini. 

Dari Amazon hingga pulau-pulau kecil di Pasifik, mereka yang paling sedikit menyumbang emisi justru menanggung dampak paling berat. Belém memberi satu pesan tegas: waktu untuk berjanji sudah habis, kini tinggal dua pilihan—bertindak atau menyaksikan masa depan yang tak dapat diselamatkan. (*)