Tumbangnya Hutan Kami: Deforestasi Mengubah Pohon Jadi Karbon di Atmosfer

Pemandangan drone dari Pulau Combu, dengan kota Belem di latar belakang. Pulau Combu adalah pulau terbesar keempat dari 39 pulau yang membentuk wilayah kepulauan kota Belem, Pará. Penduduk setempat umumnya merupakan penduduk tepi sungai, dan kegiatan ekonominya terutama terkonsentrasi di sektor pariwisata/rekreasi dan industri ekstraktif, Belém, Brasil, 8 November 2025. (Foto oleh Alex Ferro/COP30)

Belém, 10 November 2025 — Penebangan hutan tropis bukan sekadar hilangnya pepohonan—ia adalah proses kimia besar-besaran yang mengubah kehidupan menjadi gas. Setiap batang pohon yang tumbang, setiap daun yang terbakar, adalah karbon yang kembali ke atmosfer, mempertebal selimut panas bumi. Di Brasil, proses ini telah menjadikan deforestasi sebagai penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Di Indonesia, pola dan akibatnya nyaris serupa: hutan ditebang, dibakar, dijadikan kebun, dan udara—dari Kalimantan hingga Jakarta—semakin sesak oleh panas dan polusi karbon.

Menurut Greenhouse Gas Emissions and Removals Estimates System (SEEG), sektor perubahan penggunaan lahan menyumbang sekitar 50 persen emisi gas rumah kaca Brasil. Angka itu menunjukkan betapa besar peran deforestasi terhadap krisis iklim. Sebab di balik setiap hektar hutan yang berubah menjadi padang penggembalaan atau perkebunan, tersimpan rantai biokimia yang menyalurkan karbon dari tanah ke udara.

Pertanyaannya: bagaimana tumbangnya sebatang pohon bisa memicu perubahan iklim global—dan mengapa dampaknya terasa hingga ke kota-kota seperti Jakarta?

Dari batang kayu ke awan karbon

“Pertama-tama, penting diingat bahwa pohon dan tumbuhan tidak menyimpan karbon dioksida,” ujar Giuliano Locosselli, peneliti di Centro de Energia Nuclear na Agricultura Universitas São Paulo (CENA-USP), dikutip INFOAMAZONIA. “Sebaliknya, pohon menyimpan karbon yang telah diubah menjadi molekul-molekul besar yang berfungsi sebagai sumber energi dan kelangsungan hidup,” lanjutnya.

Artinya, setiap batang kayu yang tampak padat sejatinya adalah wadah karbon yang terperangkap selama bertahun-tahun hasil fotosintesis. Seperti manusia, pohon menyimpan karbon dalam bentuk karbohidrat—campuran karbon, hidrogen, dan oksigen. “Pati berfungsi sebagai sumber energi dan nutrisi bagi tanaman; sementara selulosa dan lignin merupakan senyawa struktural pembentuk batang pohon,” jelas Ana Carolina Loss, dosen di Universitas Federal Espírito Santo (UFES).

Menurut Locosselli, sekitar separuh karbon pohon tersimpan di batangnya. Sebagian kecil disimpan dalam bentuk minyak dan pati sebagai cadangan darurat, sementara hanya 1 hingga 5 persen berada di daun. Semakin tua dan besar pohon, semakin banyak karbon yang dikandungnya. “Bayangkan berapa banyak karbon yang dikandung oleh pohon-pohon raksasa berumur ratusan tahun di Amazon. Kehilangan mereka sama saja dengan meledakkan ‘bom karbon’ di atmosfer. Itulah sebabnya mengapa pelestarian wilayah ini sangat penting,” tegas Loss.

Pernyataan itu juga menggambarkan kondisi di Indonesia. Hutan tropis Kalimantan, Papua, dan Sumatera—yang memiliki karakter serupa dengan Amazon—menyimpan miliaran ton karbon dalam biomassa pohon. Ketika hutan-hutan itu terbakar atau ditebang untuk ekspansi sawit, tambang, atau proyek industri, karbon yang selama ratusan tahun tersimpan lepas dalam hitungan jam.

Dari kehidupan ke abu

Begitu pohon mati, gudang karbon itu mulai bocor. “Kematian pohon menghasilkan karbon dioksida melalui dua cara: pembakaran dan dekomposisi alami,” kata Divino Silvério, ahli ekologi hutan dari Universitas Federal Pertanian Amazon (UFRA).

Dalam kasus pembakaran, katanya, terjadi reaksi kimia berantai yang melepaskan CO₂ sebagai salah satu produk utamanya. “Reaksi kimia ini memecah molekul-molekul karbon besar menjadi molekul-molekul yang lebih kecil, yang kemudian berikatan dengan oksigen di udara dan membentuk karbon dioksida,” ujarnya. Selama masih ada kayu atau daun yang terbakar, karbon akan terus dilepaskan.

Pada dekomposisi alami, prosesnya lebih lambat. “Ketika pohon masih hidup, sistem kekebalannya berfungsi untuk mencegah jamur dan bakteri menguraikannya. Ketika pohon mati, mikroorganisme ini mulai bekerja,” jelas Lucas Mendes, peneliti mikrobiota tanah di CENA-USP.

Jamur melepaskan enzim yang mencerna selulosa dan lignin—dua bahan paling keras dalam jaringan pohon. “Proses ini sebenarnya sangat sulit ditiru. Jika manusia seefisien jamur dalam hal ini, bahan bakar hijau akan sangat mudah diproduksi,” ujar Locosselli bergurau.

Setelah jamur memecah struktur kayu, bakteri mengambil alih. Mereka memakan sisa molekul yang telah terurai, lalu melalui proses respirasi menghasilkan karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer. Mendes menjelaskan, “Sekitar 70 persen karbon dari pohon berubah menjadi CO₂. Sisanya, sekitar 30 persen, terperangkap dalam tubuh mikroorganisme tersebut. Ketika mereka mati, tubuhnya menjadi nekromassa yang mengandung sisa lipid membran sel yang menempel pada mineral di partikel tanah dan menetap di sana sebagai karbon yang stabil.” Karbon yang tersisa inilah yang kemudian memperkaya tanah dan menumbuhkan kehidupan baru.

Namun, dalam konteks deforestasi modern—terutama yang disertai pembakaran—proses alami itu nyaris tak sempat terjadi. “Kebakaran memangkas proses yang seharusnya berlangsung puluhan tahun—atau bahkan berabad-abad untuk pohon besar—menjadi hanya beberapa hari,” kata Silvério.

Luka yang sama di Brasil dan Indonesia

Pola destruksi di Brasil mencerminkan tragedi yang juga terjadi di Indonesia. Di Amazon, hutan dibuka untuk peternakan sapi dan pertanian kedelai. Di Kalimantan dan Papua, hutan digunduli untuk sawit, tambang nikel, atau proyek-proyek energi yang mengklaim nama “transisi hijau”.

Padahal, baik Brasil maupun Indonesia adalah paru-paru dunia. Keduanya menyimpan stok karbon yang sangat besar dalam ekosistem hutan tropis basah. Ketika hutan-hutan ini musnah, bukan hanya habitat yang hilang, tetapi juga kemampuan bumi menyerap karbon.

Di Indonesia, emisi dari deforestasi dan kebakaran gambut kerap menjulang dalam catatan tahunan. Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa sektor kehutanan dan penggunaan lahan masih menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca nasional.

Ironisnya, kebijakan “net zero emission” yang dijanjikan pemerintah sering kali bertolak belakang dengan praktik di lapangan. Di satu sisi, pemerintah menggaungkan komitmen restorasi hutan dan pengendalian emisi; di sisi lain, izin tambang, sawit, dan proyek infrastruktur terus menembus kawasan hutan primer.

Dari penyimpanan karbon ke krisis global

Dalam skala global, setiap hektar hutan yang hilang berarti peningkatan CO₂ di atmosfer dan penurunan kemampuan bumi menahan panas. Deforestasi bukan hanya soal pohon yang ditebang, melainkan tentang hilangnya sistem penyeimbang iklim yang telah bekerja selama jutaan tahun.

Pohon-pohon besar di Amazon dan Indonesia adalah mesin biologis yang menyerap karbon dan mengubahnya menjadi kehidupan. Ketika mereka mati karena gergaji dan api, karbon itu kembali ke udara—dan udara itu kini kian panas, lembab, dan beracun bagi masa depan manusia.

Sains telah menjelaskan prosesnya secara gamblang. Namun yang lebih penting adalah menyadari bahwa di balik semua reaksi kimia itu ada persoalan politik, ekonomi, dan moral. Sebab yang menebang bukanlah alam, melainkan manusia.

“Sebaliknya dari CO₂, pohon menyimpan karbon yang telah diubah menjadi molekul-molekul besar yang berfungsi sebagai sumber energi dan kelangsungan hidup,” kata Locosselli. Dan ketika energi itu kita bakar tanpa kendali, maka yang tersisa hanyalah karbon di atmosfer—dan kesunyian di hutan yang telah hilang. (*)